loading...
loading...

Kata-Kata tere Liye bak Mutiara yang mencerahkan

Kata-Kata tere Liye bak Mutiara yang mencerahkan - Tere Liye menurut saya adalah salah satu Penulis yang sangat bijak, dan tulisannya sungguh banyak mengandung pelajaran dan sering menghibur Itulah mengapa saya beri judul artikel kali ini dengan nama "KATA-KATA TERE BAK MUTIARA YANG MENCERAHKAN". Ada dua tulisan Tere Liye yang saya kirim untuk artikel kali ini Di jamin kalian pasti suka Abiss..
 
Kata-Kata tere Liye bak Mutiara yang mencerahkan
Kata-Kata tere Liye bak Mutiara yang mencerahkan
 
Kata-Kata tere Liye bak Mutiara yang mencerahkan Yang pertama

Bahagia
 
Apakah kita bahagia? Ini pertanyaan yang tahu persis jawabannya adalah kita sendiri. Kita bisa saja “menipu” orang lain, tampil seolah bahagia, tertawa lepas, tapi yang tahu persis adalah diri kita sendiri. Pun dalam kasus, saat kita juga berhasil “menipu diri sendiri”, selalu bilang saya bahagia, saya bahagia, maka nurani terdalam tidak pernah bisa ditipu. Hakikat seluruh kebahagiaan itu baru terlihat kelak, saat semua orang tiba di akhir hayatnya, alias nafas terakhirnya. Saat itulah dia tahu persis apakah seluruh kehidupan miliknya bahagia, atau sebaliknya, penuh ilusi, kosong saja.
 
Apa sumber kebahagiaan terbesar dalam hidup ini? 
 
Jawabannya hanya satu: agama.
 
Jangan pernah tertipu dengan gemerlap dunia ini, adik-adik sekalian. Banyak orang yang bergaya sekali bilang: “Inilah hidupku”, atau bilang, “Saya berbahagia.” Untuk kemudian, semuanya adalah dusta. Berapa banyak orang2 yang sok tegar dan sok gagah, padahal dia menderita stres dan depresi berkepanjangan. Berapa banyak orang2 yang mati2an meyakinkan dirinya benar, padahal dia tahu persis, dirinya bergelimang dosa. Berapa banyak yang tidak percaya Tuhan, menendang jauh kitab suci, tapi malam-malam sendiri, hanya bisa tergugu hampa, bahkan besok lusa, saat sakratul maut menjemput, dia merasakan sakit yang tidak terhingga. 
 
Silahkan saja orang-orang melupakan agama dalam hidup ini. Tapi dia tidak akan bisa melupakan hakikat dirinya yang hanya mahkluk. Bersifat temporer. Pasti mati. Kita selalu bisa membangun argumen, tameng, penjelasan, semua silat lidah atas hidup kita, tapi kita sebenarnya tahu, semua itu hanya kepalsuan.
Agama adalah jawaban final atas kebahagiaan.
 
Naif sekali jika orang-orang merasa dia bisa berbahagia, padahal dia tahu persis sedang berusaha lari mati-matian dari ajaran agamanya. Dia tahu persis, dosa yang dia lakukan, semua kemunafikan yang dia kerjakan, tapi dia sekaligus ingin bahagia? Tidak masuk rumusnya. Harta benda, popularitas, kekuasaan, teman, keluarga, dukungan, tidak akan pernah berhasil menjadi obat sejati. Hanya sebentar saja efeknya, untuk kemudian, esok pagi, kita tetap saja terbangun, dan melihat faktanya: kita tidak bahagia. 
 
Sungguh ketahuilah, apa hal yang paling menyedihkan saat kita berusaha lari dari agama? Kita justeru tahu persis bahwa kita semakin jauh dari hakikat kebahagiaan? Malang sekali, kita mati-matian meyakinkan diri, merasa sah menjadi pendosa, untuk kemudian menangis terisak, memohon Tuhan agar memberikan pertolongan dan ampunan.
 
Sadarilah situasi ini sebelum semakin jauh kita tersesat, dan ego membuat kita semakin buta. Hingga semuanya benar-benar terlambat.
 
*Tere Liye
 
Kata-Kata tere Liye bak Mutiara yang mencerahkan Yang kedua

Bully & diskriminasi sebenarnya

Seorang anak muda, peneliti dengan prestasi baik, hendak mengikuti konferensi ilmiah di LN. Visanya ditolak mentah-mentah? Kenapa? Hanya karena namanya “Muhammad” atau “Abdullah”. Inilah yang disebut diskriminasi, sebuah nama cukup membuatnya langsung terusir. Apakah pernah ada kelompok lain, yang diskriminasi karena nama? Mungkin ada, tapi tidak seberapa dibandingkan nama-nama ini.
 
Seorang berjenggot, memakai pakaian jubah panjang, masuk ke kedai kopi yang konon mendewakan kebebasan. Seluruh mata menatap orang ini--yang simply hanya ingin membeli secangkir kopi. Dilayani tanpa senyum sedikit pun oleh pelayannya--padahal jika orang lain yang membeli, pelayan langsung tersenyum lebar. Dan epic, saat orang berjenggot ini duduk, di sebelahnya ada anak kecil menangis, Ibu anak itu langsung berbisik, “Ssttt, kamu diam, atau nanti Mama kasih ke Om jenggotan tersebut.” Apakah pernah kelompok lain dibegitukan hanya karena pakaian? Mungkin pernah. Tapi kalian tidak akan ditatap dengan tatapan seolah sedang membawa bom atom.
 
Seorang perempuan, memakai cadar karena itu keyakinannya. Dia sama sekali tidak sedang memprovokasi orang lain, tidak sedang berdemo menuntut hak-haknya, dia simply hanya memakai cadar. Melintas di stasiun KRL ibukota, entah apa dosa perempuan ini, 2 pengamen dengan bedak tebal dan lipstik merona langsung cekikikan berseru, “Eh, ada ninjha lhewat, chhinnn...” Astaga? Apa salah perempuan bercadar ini hingga dia di bully secara terang2an di siang hari, di tengah banyak orang. Kita selalu berisik bicara soal bully dan diskriminasi? Tidakkah ada aktivis kesetaraan, organisasi hak asasi yang mau membela perempuan bercadar ini?
 
Jangan tanya soal melamar pekerjaan, dijamin dek, foto berjenggot tebal, bercadar, saat dilihat, aplikasi lamaran kalian diletakkan di tumpukan paling bawah. Saya tidak pernah melihat petugas dengan jenggotan, tidak pernah juga melihat petugas dengan jilbab lebar--apalagi cadar. Jangan tanya soal kesempatan, akses, hak-hak lainnya yang lebih sederhana, mereka mengalami bully dan diskriminasi tidak terbilang. Padahal apa dosanya?
 
Jika kita ingin bicara soal diskriminasi, belajarlah dari situasi ini. Belajarlah dari orang2 ini. Karena meski dilupakan aktivis hak asasi, mereka tetap menerima bully dan diskriminasi, bahkan ketika dunia sudah masuk tahun 2016. 
 
*Tere Liye
 
Itulah Kata-Kata tere Liye bak Mutiara yang mencerahkan. Bagaimana keren bukan tulisan tere liye? Saya pengemarnya soalnya. Oh iya,  Kata-Kata Mutiara tere liye yang lainnya ada disini

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kata-Kata tere Liye bak Mutiara yang mencerahkan"

Post a Comment

Tolong berkomentar sesuai kata-kata mutiara di atas, jangan melakukan spam. Terima kasih..